AI Membantu Pengguna Memahami Penyakit Kulit: Riset Baru Google
Google/DeepMind
Google Research mempresentasikan hasil studi yang menunjukkan bagaimana alat AI membantu orang tanpa pendidikan medis untuk lebih memahami penyakit kulit. Dalam survei besar dan studi lapangan yang melibatkan pasien nyata, AI secara signifikan meningkatkan akurasi dalam mengidentifikasi nama kondisi, namun kesulitan muncul dalam memilih tindakan selanjutnya. Para peneliti menekankan pentingnya pendekatan yang berpusat pada manusia saat mengembangkan alat semacam itu.
Peneliti Google, Rory Sayres dan Yun Liu, mempublikasikan data tentang bagaimana alat kecerdasan buatan (AI) dapat membantu orang biasa dalam bidang dermatologi. Dalam sebuah studi kuantitatif besar yang diterbitkan di JAMA Dermatology, sebanyak 2.345 peserta diperlihatkan kasus kondisi kulit yang telah dianonimkan. Mereka yang menggunakan asisten AI berusaha menyebutkan nama kondisi tersebut sebanyak 62% (dibandingkan 41% pada kelompok kontrol), dan akurasi mereka hampir tiga kali lebih tinggi (23% vs. 8%). Dalam skenario Wizard of Oz (AI sempurna yang disimulasikan), akurasi mencapai 36%. Namun, akurasi dalam memilih langkah selanjutnya (misalnya pengobatan rumahan atau ke dokter) hanya meningkat sedikit. Dalam studi lain yang dilakukan bersama Universitas Stanford dan Santa Clara Family Health Plan, 110 peserta dengan masalah kulit nyata menggunakan aplikasi bertenaga AI dalam empat bahasa. Penggunaan AI meningkatkan kemampuan untuk menyebutkan nama kondisi hingga 260%, meskipun akurasi keseluruhan tetap rendah. Para dokter mencatat bahwa prediksi AI sesuai dengan penilaian mereka dalam 86% kasus, dan aplikasi tersebut dianggap sebagai alat yang berguna dalam 92% kasus. Para peneliti menekankan bahwa untuk meningkatkan alat-alat ini, perlu ditambahkan lebih banyak gambar pelatihan dengan warna kulit, tingkat keparahan, dan bagian tubuh yang berbeda, serta informasi yang lebih personal tentang langkah selanjutnya.
Sumber: Google Research —
asli
