Google Research Perluas Data Ketahanan Panas ke Lebih dari 50 Kota di Seluruh Dunia
Google/DeepMind
Airbus
Google Research telah merilis dataset terbaru tentang reflektivitas atap bangunan untuk lebih dari 50 kota, yang bertujuan membantu perencana kota menerapkan 'atap dingin' dan mengatasi panas ekstrem. Data ini dapat diakses melalui aplikasi Heat Resilience Earth Engine yang baru, berdasarkan citra satelit resolusi 30 cm dan metode kecerdasan buatan.
Google Research telah merilis dataset yang diperluas tentang reflektivitas atap (albedo) di tingkat bangunan untuk lebih dari 50 kota di seluruh dunia guna membantu perencana kota menerapkan solusi "atap sejuk" dan mengurangi dampak panas ekstrem. Sekitar 500.000 kematian setiap tahun terkait dengan panas ekstrem, yang diperparah oleh efek pulau panas perkotaan, menyebabkan suhu di kota-kota besar naik dua kali lebih cepat daripada rata-rata global. Material atap dan trotoar yang gelap, serta kurangnya vegetasi, memperburuk pemanasan lokal. "Atap sejuk" secara signifikan mengurangi penyerapan energi matahari dan suhu lokal dengan meningkatkan albedo. Pada tahun 2024, Google Research menguji pendekatan ini dengan 14 kota, memberikan mereka data albedo atap, yang mengarah pada adopsi peraturan dan rencana adaptasi. Sekarang data tersebut mencakup lebih dari 50 kota di 9 negara, termasuk London, Athena, Barcelona, Rio de Janeiro, São Paulo, Los Angeles, Austin, dan New York. Metodologi ini dijelaskan dalam makalah di Nature Communications: peneliti menggabungkan data dari satelit Sentinel-2 (10 meter) dengan citra komersial Airbus Pléiades Neo (30 sentimeter) menggunakan pembelajaran mesin. Ini menghasilkan peta albedo dengan resolusi 30 sentimeter, memungkinkan analisis bangunan besar individual. Data tersebut diverifikasi menggunakan pengukuran hiperspektral dari pesawat terbang di atas Boulder, Colorado, dengan kesalahan akar rata-rata kuadrat hanya 0,04. Pemodelan menunjukkan bahwa penerapan "atap sejuk" secara terarah dapat mengurangi panas perkotaan ekstrem hingga 0,5°C secara global. Aplikasi Heat Resilience Earth Engine yang baru menyediakan akses terbuka ke data ini.
Sumber: Google Research —
asli
