Laporan Thales Group: Peran AI dalam keamanan informasi
Thales Group
Thales Group mensurvei lebih dari 3.000 responden dari 20 negara mengenai dampak AI terhadap keamanan siber. Temuan utama: 34% organisasi sudah menggunakan agen AI, 73% berencana menerapkannya dalam setahun; 30% kini memiliki anggaran keamanan AI khusus; kesalahan manusia masih menjadi penyebab utama pelanggaran (28%). Survei BISA Rusia menyoroti kekhawatiran kebocoran data rahasia melalui layanan AI publik.
Laporan Thales Group, berdasarkan survei terhadap lebih dari 3.000 responden dari 20 negara, mengungkapkan bahwa 34% organisasi sudah menggunakan agen AI, dan 73% berencana untuk menerapkannya dalam waktu satu tahun. Kecepatan dan volume data yang digunakan oleh agen AI mempersulit keamanan, sehingga terjadi peningkatan tahunan sebesar 50% dalam alokasi anggaran khusus untuk keamanan informasi terkait AI oleh organisasi. 70% responden menyebutkan cepatnya perubahan ekosistem AI sebagai faktor keamanan utama, dan 61% melaporkan serangan terhadap aplikasi AI mereka yang bertujuan mencuri data rahasia. 48% perusahaan mengalami kerugian akibat disinformasi yang dihasilkan AI, dan 59% menghadapi serangan berbasis deepfake. Penyimpanan cloud (35%), aplikasi SaaS (Software as a Service) (34%), dan infrastruktur manajemen cloud (32%) masih menjadi target serangan utama. Kredensial pengguna naik dari peringkat 8 ke peringkat 5 sebagai target utama. Survei BISA Rusia menemukan bahwa 89% responden menganggap mentransfer data rahasia ke layanan AI publik sebagai ancaman kritis, 46% menyadari kebocoran data melalui AI, dan 59% setuju sebagian dengan regulasi AI, menekankan perlunya mendukung solusi dalam negeri. 46% organisasi mengizinkan penggunaan AI terbatas, 48% melatih karyawan, dan 30% meningkatkan kontrol untuk mengurangi risiko.
Sumber: Habr — хаб ML —
asli
