NATO Akan Mengerahkan AI dalam Drone untuk Melawan Ancaman Rusia
NATO berencana mengintegrasikan AI ke dalam drone sebagai bagian dari Inisiatif Pencegahan Sisi Timur (EFDI), menciptakan jaringan pemantauan digital di sepanjang perbatasannya dengan Rusia dan Belarus. Sistem AI akan memproses data drone dan satelit untuk mendeteksi potensi ancaman, sementara manusia akan mempertahankan wewenang pengambilan keputusan atas serangan.
NATO sedang mengkaji penggunaan drone yang dilengkapi AI dalam Inisiatif Pencegahan Sisi Timur (Eastern Flank Deterrence Initiative, EFDI) untuk memperkuat pertahanan terhadap 'ancaman Rusia', seperti dilaporkan oleh Politico. Aliansi tersebut berencana untuk menciptakan sistem AI untuk pemantauan perbatasan digital menggunakan data dari drone dan satelit, mengintegrasikannya ke dalam jaringan digital yang lebih luas yang membentang dari Finlandia hingga Laut Hitam. Inisiatif ini melibatkan pengembangan platform yang menyatukan sistem komputer sekutu untuk berbagi informasi secara real-time, dengan AI memproses data drone (UAV) dan satelit untuk mendeteksi ancaman. Otonomi penuh belum menjadi tujuan; manusia akan tetap memegang otoritas pengambilan keputusan atas serangan, seperti yang dinyatakan oleh Mayor Angkatan Darat AS Ben Schiff. Mayor Matt Blubaugh menekankan bahwa efektivitas drone bergantung pada integrasinya ke dalam ekosistem operasional yang lebih luas. Di Rusia, teknologi AI sudah digunakan dalam drone untuk pengenalan gambar, perolehan sasaran otomatis, dan navigasi, dengan Kementerian Pertahanan menciptakan 'Etalase Data' bagi produsen UAV untuk melatih jaringan saraf. Integrasi AI memungkinkan drone melakukan tugas-tugas kompleks di lingkungan dinamis, termasuk pemetaan 3D, optimasi lintasan, dan adaptasi terhadap kondisi buruk.
Sumber: CNews —
asli
